Sabtu, 16 Juni 2012

Siti Atun C8


PERUBAHAN BAHASA INDONESIA
SEBUAH BENTUK KREATIVITAS DAN SEKALIGUS FENOMENA MELEMAHNYA KARAKTER BANGSA
“TEORI ALIH KODE”

  
NAMA       : siti atun
NIM           : 100388201131






PROGRAM STUDI BAHASA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN dan ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI
TANJUNGPINANG
2012


Abstrak:

Semua bahasa pasti mengalami perubahan karena sifatnya dinamis
bukan statis. Perubahan bahasa Indonesia, misalnya, dapat di pengaruhi oleh
beberapa hal.
·         Pertama, semakin banyaknya kosa kata dan frase bahasa asing
khususnya bahasa Inggris yang dimasukkan ke dalam bahasa Indonesia. Proses ini
lazim disebut alih kode (code switching) yaitu tindakan memasukkan kosa kata
dan frase dari bahasa tertentu ke bahasa lain. Alih kode seringkali dilakukan oleh
penutur asli bahasa Indonesia terutama generasi muda, baik di dalam komunikasi
lisan maupun tulisan.
·         Ke dua, penyingkatan kata-kata bahasa
Indonesia(shortening words) yang menyebabkan beberapa kosa kata berubah dari
aturan ‘baku’nya.
·         Ke tiga, muncul dan berkembangnya ragam bahasa slang.
Makalah ini bertujuan untuk membahas dampak positif dan negatif perubahan
bahasa Indonesia.Di satu sisi, perubahan tersebut bisa dinilai sebagai sebuah
bentuk kreativitas.Alih kode, penyingkatan kata-kata, dan slang dapat
memperkaya kosa kata bahasa Indonesia.Selain itu, ketiga fenomena kebahasaan
ini menumbuhkembangkan rasa empati yang mempererat hubungan antar penutur
karena alih kode, penyingkatan kata-kata, dan slang lazim digunakan oleh
sekelompok orang yang telah memiliki kesamaan nilai-nilai. Di sisi lain, ada
kemungkinan seorang penutur asli justru tidak mampu berbahasa Indonesia
dengan baik dan benar. Selain itu, linguistic imperialism sangat mungkin terjadi.
Hal ini berarti bahwa penutur asli bahasa Indonesia didominasi oleh bahasa asing
(dalam hal ini bahasa Inggris) dan beranggapan bahwa bahasa asing bernilai lebih
tinggi daripada bahasa Nasional. Dengan kata lain, muncul fenomena
 melemahnya karakter bangsa.
Di dalam dunia pendidikan (khususnya di tingkat Perguruan Tinggi), salah satu
hal yang dapat dilakukan oleh seorang pendidik untuk mengantisipasi dampak
negatif tersebut adalah dengan cara mengarahkan persepsi para pelajar bahwa
tidak ada superioritas antar bangsa. Dengan mempelajari dan menguasai sebuah
bahasa asing, misalnya, seseorang diharapkan akan mampu bersaing di era global
dengan tetap mempertahankan kearifan lokal.
Kata kunci:
 alih kode; penyingkatan kata- kata, slang, linguistic imperialism,
kearifan lokal.
 Pendahuluan

Bahasa berfungsi sebagai media komunikasi.Melalui bahasa manusia berusaha
untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan.Oleh karena sifatnya yang dinamis
maka setiap bahasa di dunia termasuk bahasa Indonesia, pasti mengalami
perubahan yang berdampak positif dan negatif.Di dalam kasus bahasa Indonesia,
perubahan bisa dipengaruhi oleh beberapa hal.
·         Pertama, meningkatnya jumlah kosa
kata dan frase bahasa asing khususnya bahasa Inggris yang dimasukkan ke dalam
bahasa Indonesia. Proses ini lazim disebut alih kode (code switching)yaitu
tindakan memasukkan kosa kata dan frase dari bahasa tertentu ke bahasa lain.
Penutur asli bahasa Indonesia terutama generasi mudaseringkali melakukan alih
kode baik di dalam komunikasi lisan maupun tulisan.
·         Ke dua, penyingkatan katakata
bahasa Indonesia(shortening words) yang menyebabkan beberapa kosa kata
berubah dari aturan ‘baku’nya.Faktor ke tiga adalah muncul dan berkembangnya
ragam bahasa slang.
Makalah ini akan membahas dampak positif dan negatif perubahan bahasa
Indonesia. Oleh karena itu, istilah alih kode, penyingkatan kata-kata, dan ragam
bahasa slang beserta contohnya akan dijelaskan terlebih dahulu. Kemudian, peran
pendidik (khususnya di tingkat Perguruan Tinggi) untuk mengantisipasi
kemungkinan dampak negatif perubahan bahasa Indonesia akan dipaparkan.
 I.Pembahasan

Alih Kode, Penyingkatan Kata-Kata, dan Ragam Bahasa ‘Slang’

a.Alih Kode

Istilah alih kode mengacu kepada tindakan seorang penutur yang memasukkan
kosa kata dan frase dari bahasa tertentu ke dalam bahasa yang digunakannya.Ada
tiga macam alih kode yaitu situational, methaporical, dan conversational.
Meskipun demikian, di dalam makalah initidak semua tipe alih kode akan
dijelaskan tetapi hanya tipe ke tiga yaitu conversational(khususnya alih kode dari
bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris) karena jenis alih kode inilah yang
paling sering digunakan oleh penutur asli bahasa Indonesia terutama generasi
muda. Gumperz (di dalam Hudson, 1980) menjelaskan bahwa tipe alih kode
conversational mengacu kepada tindakan penutur bahasa tertentu yang beralih
menggunakan kosa kata bahasa lain ketika mereka sedang berkomunikasi.
Peralihan ini sangat sering terjadi, bahkan di dalam satu kalimat yang dituliskan
ataupun diucapkan oleh penutur tersebut.
Tipe alih kode conversationaltelah menjadi bagian hidup sebagian anggota
masyarakat Indonesia, khususnya bagi mereka yang memiliki akses untuk masuk
ke dalam jaringan sosial dunia.Komunikasi secara tertulis (misalnya melalui
media internet dan telepon genggam)maupun lisan dapat menjadi contoh nyata
berkembangnya penggunaan alih kode.Nurhayani (2005) di dalam penelitiannya
mengenai alih kode menyatakan bahwa fenomena ini berhubungan erat dengan
gaya hidup dan prestise. Dengan menggunakan alih kode, seorang penutur asli
bahasa Indonesia merasa memiliki status sosial yang lebih tinggi bila
dibandingkan dengan mereka yang tidak mengenal dan mempraktekkannya.
Fenomena alih kode ini juga tidak terlepas dari kenyataan menguatnya kedudukan
bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional pertama yang dipelajari di seluruh
dunia termasuk di Indonesia.Para pembelajar yang terbiasa menggunakan bahasa
Inggris di dalam kelas telah membawa kebiasaan tersebut ke dalam pergaulan
sehari-hari. Mereka menggabungkan bahasa Indonesia dan Inggris ketika
berkomunikasi dengan lawan tutur. Sejalan dengan Nurhayani, Onishi (2010) juga
berpendapat bahwa berkembangnya alih kode di kalangan generasi muda
Indonesia memang terkait erat dengan gayahidup. Sebagian besar masyarakat
kelas menengah ke ataslebih memilih sekolah swasta berstandar internasional
yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di dalam proses
belajar-mengajar. Ironisnya, sebagian pembelajar tersebut merasa bangga bila
tidak dapat berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.
Sebenarnya perkembangan penggunaan alih kode telah menjadi perhatian para
ahli bahasa Indonesia, seperti Charlie (1999), Moeliono di dalam Sugono (2003),
Sugihastuti (2003), dan Soedjatmoko di dalam Anwar (2004) yang
menyatakanbahwa bahasa Indonesia telah mengalami perubahan leksikal. Salah
satu perubahan tersebut terjadi di dalam hal peminjaman kata dari bahasa Inggris
ke bahasa Indonesia (di dalam Hajar, 2005, hal.1).Hajar kemudian
menjelaskanbahwa perubahan leksikal ini lambat laun berubah menjadi fenomena
alih kode.
Berikut ini beberapa contoh penggunaan alih kode di dalam bahasa tulis melalui
media internet.Meskipun demikian, contoh kalimat yang dipaparkan di sini juga
sering digunakan di dalam komunikasi lisan.

Contoh Alih : KodeKalimat Sumber
Jangan in your mind ajee dong darrr sini dehhh...
 Twitter
Apapun substansi & discourse "positioning" yg kt
maksud, semua akan kembali ke muara
"keselarasan". Yg ptg hdp ini hrs balance dlm sgl
aspect.
Facebook
Gue juga gak maksud apa-apa siih…Cuma wanna
know aja…
Detik Forum

b.Penyingkatan Kata-Kata

Penyingkatan kata-kata merupakan bentuk variasi bahasa Indonesia. Fenomena
kebahasaan ini seringkali terjadi di dalam komunikasi lisan dan tulisanmelalui
media internet dan telepon genggamyang dinilai berpotensi merusak bahasa
Indonesia ‘baku’. Beberapa contoh kata bahasa Indonesia yang mengalami
penyingkatan adalah terima kasih menjadi trims; akhiran –nya menjadi x;dan
murah meriah menjadi murmer.

c.Ragam Bahasa ‘Slang’

Burridge (2002, di dalam Harwati, 2010) menyatakan bahwa istilah slang
mengacu kepada “kosa kata dan idiom rahasia yang dipergunakan oleh sebuah
kelompok tertentu yang antar anggotanya telah memiliki kesamaan nilai-nilai”
(hal.182).Di dalam bahasa Indonesia, padanan istilah bahasa slang adalah bahasa
gaul. Harwati juga menjelaskan bahwa di dalam perkembangannya, bahasa
gaulbanyak dipergunakan oleh kaum remaja sebagai ‘identitas’ dan media
komunikasi antar mereka. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa bahasa
gaulsangat dekat dengan kehidupan para remaja.
Kosa kata bahasa (Indonesia)gaulantara lain dibentuk dengan cara
mengkombinasikan huruf dengan angka serta huruf dengan angka bahasa Inggris.
Beberapa contoh kata yang termasuk ragam bahasa gaulantara laint4 dibaca
tempat; j4n9n dicob4 dibaca jangan dicoba; s2 dibaca situ (Damhuri, 2010, hal.1).
Beragam kosa kata tersebut digunakan oleh penutur asli bahasa Indonesia ketika
mereka berbincang melalui media internet (chatting) dan menulis pesan singkat
melalui telepon genggam. Contoh kosa kata bahasa gaul lainnya yang seringkali
dugunakan di dalam komunikasi baik lisan maupun tulisan adalah kaya menjadi
tajir; jijikmenjadi jijay; ayah ibu menjadi bokap nyokap, dan sebagainya.
 II. Dampak Perubahan Bahasa Indonesia
 a. Dampak Positif
Burridge (2002, hal.102) menyatakan bahwa “there is always something good in
bad language” (pasti ada sesuatu yang baik di balik bahasa yang dinilai
menyalahi aturan baku). Pendapat ini berarti bahwa bahasa yang dianggap ‘salah’
pasti memiliki sisi positif.Fenomena alih kode dapat menunjukkan bahwa penutur
memiliki kemampuan berbahasa Inggris.Di era globalisasi dewasa ini,
kemampuan tersebut dapat berfungsi sebagai salah satu cara untuk mengakses
informasi dan ilmu pengetahuan secara lebih luas. Selain itu, kemampuan
berbahasa Inggris juga memungkinkan seseorang untuk dapat mempelajari budaya
bangsa lain karena bahasa merupakan bagian dari budaya dan sebaliknya. Dengan
menguasai bahasa Inggrisseseorang juga akan mampu menembus sekat yang
memisahkan bangsa-bangsa di dunia. Bahasa Inggris telah menjadi lingua franca
yang memungkinkan seseorang untuk berkomunikasi dengan orang lain secara
lebih mudah.
Sementara itu, penyingkatan kata-katadapat memperkaya perbendaharaan kata
bahasa Indonesia.Variasi bahasa ini juga dapat membantu para penutur untuk
meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia dan keakraban antar mereka.Hal
ini berdasarkan alasan bahwa para penutur pada umumnya lebih familiar dengan
kosa kata yang telah mengalami penyingkatan karena lazim digunakan di dalam
komunikasi sehari-hari.
Mengenai bahasa gaul, Burridge (2002) lebih jauh menjelaskan bahwa ragam
bahasa ini memiliki fungsi solidaritas. Bahasa gauldapat meningkatkan empati
antar penutur karena pada umumnya bahasa gaul dipergunakan oleh sekelompok
orang tertentu yang telah memiliki kesamaan nilai-nilai. Dengan demikian, tidak
sepenuhnya bijaksana bila dikatakan bahwa bahasa gaulberpotensi merusak
kaidah bahasa Indonesia.
 b. Dampak Negatif
Berdasarkan kenyataan bahwa ketiga fenomena kebahasaan yaitu alih kode,
penyingkatan kata-kata, dan ragam bahasa gaul telah menjadi bagian dari gaya
hidup para penuturnya maka muncul kekhawatiran bahwa mereka tidak mampu
berbahasa Indonesia dengan baik dan benar khususnya secara formal, baik di
dalam komunikasi lisan maupun tulisan. Kemungkinan dampak negatif yang lain
adalah terjadinya linguistic imperialism. Gilbert Ansre (di dalam Tang, 2006 via
Harwati, 2010, hal.180) menyatakan bahwa definisi linguistic imperialism adalah
“any situation in which the speaker of one language is dominated by another
language” (sebuah situasi dimana seorang penutur bahasa tertentu didominasi
oleh bahasa lain).Istilah linguistic imperialism ini sejak awal memang mengacu
kepada ketidakseimbangan posisi antara bahasa Inggris sebagai bahasa
Internasional pertama dan bahasa-bahasa lain.
Braj Kachru (di dalam Tang, 2006, hal.7) lebih jauh menjelaskan bahwalingusitic
imperialism dapat terjadi ketika sebuah negara dijajah oleh negara lain yang
berbahasa Inggris. Negara penjajah memegang peranan penting untuk menjadikan
bahasa Inggrisberkedudukan lebih kuat daripada bahasa asli negara jajahan.Ada
tiga cara yang lazim digunakan oleh negara penjajah untuk memperkuat
kedudukan bahasa Inggris.Pertama, mengganti bahasa asli negara jajahan dengan
bahasa Inggris.Ke dua, memposisikan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi.Ke
tiga, menanamkan sikap ‘menerima’ bahasa Inggris terhadap negara jajahan
sehingga muncul berbagai variasi ‘lokal’bahasa tersebut.
Bila dilihat dari sudut pandang sejarah,jejak-jejak kolonialisme negara Inggris di
Indonesia memang tidak terlalu signifikan.Dengan demikian, mungkin sebuah
pertanyaan akan muncul: apakah bukan sebuah kekhawatiran yang berlebihan bila
bangsa Indonesia akan mengalami linguistic imperialism? Menurut pendapat
penulis, kekhawatiran tersebut bukanlah sesuatu yang berlebihan dan tanpa
alasan.Seperti yang telah dipaparkan di bagian awal makalah ini bahwa bahasa
Inggris telah menjadi bagian dari gaya hidup sebagian anggota masyarakat
Indonesia.
Frase ‘sebagian anggota masyarakat’ mengacu kepada mereka yang memiliki
akses lebih luas terhadap pendidikan dan jaringan sosial dunia.Mereka inilah yang
diharapkan memiliki pengetahuan dan kemampuan yang lebih mengenai cara
untuk mempertahankan kedudukan bahasa Indonesia di era globalisasi ini.
Meskipun demikian, kenyataan yang ada saat ini sangat bertolak
belakang.Sebagian masyarakat Indonesia yang menjadikan bahasa Inggris sebagai
bagian dari gaya hidup tersebut justru berpendapat bahwa bahasa Inggris lebih
penting daripada bahasa Indonesia untuk meningkatkan status sosial mereka.
Dengan demikian, fenomena berkembangnya penggunaan bahasa Inggris di
kalangan masyarakat Indonesia ini dapat dikaitkan dengan melemahnya karakter
bangsa.Hal iniakan dibahas lebih lanjut pada sub bab berikut.
 III. Karakter Bangsa Indonesia dan Peran Pendidik
 Mengingat bahwa sebagian besarkelompok masyarakat yang menjadikan bahasa
Inggris sebagai bagian dari gaya hidup adalah generasi muda maka para pendidik
(makalah ini mengkhususkan kepada para pendidik di tingkat Perguruan Tinggi)
memiliki peran yang cukup penting untuk mengantisipasi kemungkinan dampak
negatif dari dominasi bahasa Inggris.Para pendidik diharapkan mampu untuk
mengarahkan persepsi pembelajar bahwa mempertahankan karakter bangsa adalah
hal yang penting.
Meskipun demikian, bukanlah sesuatu yang mudah untuk mendefinisikan istilah
karakter bangsa Indonesia.Negara ini bersifat majemuk, terdiri dari berbagai
suku, bahasa, tatanan nilai, dan kepercayaan.Sifat ‘keindonesiaan’ bangsa ini
justru tercermin dari berbagai perbedaan tersebut.Sudarsono (2010) menyatakan
bahwa “setiap percikan budaya dari setiap suku bangsa, setiap daerah, itu bagian
dari mahligai, mahkota tentang keindonesiaan” (hal.1).Dengan kata lain,
kebhinekaan adalah karakter bangsa Indonesia. Salah satuhal yang berfungsi
sebagai pengikat keberagaman tersebut adalah bahasa Nasional yaitu bahasa
Indonesia.Oleh karena itu, sudah selayaknya jika setiap elemen bangsa ini
terutama generasi muda berkewajiban untuk mencintai dan menjaga kelestarian
bahasa Indonesia mengingat bahwa mereka adalah pilar penting untuk membawa
bangsa ini ke masa depan yang lebih baik.
Usaha untuk memupuk rasa cinta terhadap bahasa Indonesia di kalangan generasi
muda memang dapat dilakukan secara informal, misalnya dimulai dari lingkungan
keluarga, maupun secara formal melalui dunia pendidikan. Seperti telah dijelaskan
di bagian sebelumnya bahwa makalah ini hanya akan membahas cara ke dua.Di
dalam ranah pendidikan tinggi, para pendidik khususnya mereka yang
berkecimpung di bidang pengajaran bahasa asing, memiliki peran yang sangat
penting untuk mengarahkan persepsi para pembelajar bahwa tidak ada superioritas
antar bangsa.Setiap bangsa memiliki penciri budaya dan salah satunya adalah
bahasa.
Meskipun di dalam makalah ini fenomena perkembangan penggunaan bahasa
Inggris di kalangan masyarakat Indonesia yang menjadi fokus bahasan, menurut
pendapat penulis semua pengajar bahasa asing memiliki peran yang sama untuk
menjembatani pemahaman para pembelajar tentang perbedaan budaya antar
bangsa. Hal ini berdasarkan alasan bahwa ada kemungkinan para pembelajar
bahasa asing selain bahasa Inggris jugaakan terkena dampak linguistic
imperialism. Mereka didominasi oleh bahasa asing yang sedang dipelajari hingga
memiliki penilaian bahwa bahasa asing tersebut berkedudukan lebih tinggi
daripada bahasa Indonesia.
Satu hal yang penting untuk dilakukan oleh pangajar bahasa asing adalah
memasukkan unsur kearifan lokal di dalam proses belajar-mengajar. Sartini
(2004) menyatakan bahwa kearifan lokal adalah “gagasan setempat (local) yang
bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh
anggota masyarakatnya” (hal.119). Berdasarkan definisi tersebut, bahasa
Indonesia dapat dikategorikan sebagai kearifan lokal, salah satu hasil gagasan
yang bernilai luhur dan kemudian dijadikan sebagai identitas nasional. Dalam
kaitannya dengan proses pembelajaran bahasa asing, bukanlah hal yang mudah
bagi pengajar untuk memposisikan diri secara seimbang. Di satu sisi, mereka
diharapkan mampu memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada pembelajar
mengenai bahasa (dan budaya) asing. Di sisi lain, para pengajar tersebut juga
dituntut untuk tetap mempertahankan nilai-nilai lokal.
Penulis sebagai seorang pengajar bahasa Prancis misalnya, berusaha untuk
memahami bahwa setiap pembelajar memiliki hak untuk mempertahankan bahasa
Nasional. Hal ini sejalan dengan pendapat Nunan (1999, di dalam Harwati, 2010,
hal.181) bahwa “pedagogical action need to be sensitive to the cultural and
environment contexts in which teaching takes place” (proses pengajaran harus
melibatkan kepekaan terhadap budaya lokal dimana proses tersebut berlangsung).
Meskipun para pembelajar diharapkan untuk dapat secara aktif memparaktekkan
kemampuan berbahasa Prancis baik di dalam dan di luar kelas, mereka harus tetap
memiliki kepekaan.Kapan, di mana, dan dengan siapa mereka sedang
berkomunikasi.Mempelajari bahasa asing bukan berarti bahwa para pembelajar
harus terus-menerus menggunakan bahasa tersebut tanpa memahami situasi
kebahasaan yang sedang mereka hadapi.Menguasai bahasa asing adalah modal
penting bagi mereka agar mampu bersaing di era global tanpa harus meninggalkan
kearifan lokal.
 Kesimpulan

Perubahan bahasa Indonesia yang ditengarai oleh setidaknya tiga hal yaitu alih
kode, penyingkatan kata-kata, dan berkembangnya bahasa gaul,telah membawa
dampak positif dan (kemungkinan) negatif. Di satu sisi, perubahan tersebut dapat
memperkaya kosa kata bahasa Indonesia, meningkatkan rasa empati antar penutur,
serta menunjukkan bahwa penutur asli bahasa Indonesia juga memiliki
kemampuan berbahasa asing, khususnya bahasa Inggris. Di sisi lain, ada
kemungkinan bahwa penutur asli kurang mampu berbahasa Indonesia dengan baik
dan benar terutama ragam bahasa formal serta terkena dampak linguistic
imperialism.
Di sektor pendidikan, para pengajar bahasa asing memiliki peran yang sangat
penting untuk mengantisipasi kemungkinan dampak negatif tersebut.Menanamkan
pemahaman kepada para pembelajar bahwa mempertahankan karakter bangsa
dengan cara mencintai dan melestarikan kearifan lokal adalah unsur penting untuk
mampu bertahan dan bersaing tanpa harus terpengaruh arus globalisasi.
 Daftar Pustaka

Burridge, K. (2002). Blooming English: Observations on the Roots, Cultivation,
and Hybrids of the English Language. Sydney: ABC Books.
Damhuri (2010).Bahasa Indonesia vs Bahasa SMS. Diakses pada tanggal
7 September 2010, dari
http://damhuri.info/index.php?option=com_content&view=article&id=87:bahasaindonesia-
vs-bahasa-sms&catid=44:tugas-kuliah&Itemid=63
Hajar, S. (2005).‘Why me- + English Words?’ di dalam prosiding untuk
CONEST2. Yogyakarta, Indonesia: Universitas Atmajaya, hal. 1-9.
Harwati, L.N. (2010). ‘Pemertahanan Identitas Lokal dalam Proses Pengajaran
Bahasa Prancis’ di dalam prosiding untukSeminar Internasional PELANTRA.
Surabaya, Indonesia: Universitas PGRI Adi Buana, hal. 179-184.
Hudson, R.A. (1980). Sociolinguistics. University College London: Cambridge
University Press.
http://www.facebook.com
http://www.forum.detik.com
http://www.twitter.com
Nurhayani, I. (2005). Alih kode dalam Wacana Siaran Musik untuk Anak Muda
pada Radio-Radio FM di Yogyakarta: Studi Kasus pada Acara Musik Sunday
Morning di Radio Star FM, Sansero dan Good Morning Youngsters di Radio
Geronimo FM, dan Hits di Radio Prambors FM. Universitas Gadjah Mada:
Sekolah Pasca Sarjana Linguistik.
Onishi, N. (2010).As English Spreads, Indonesians Fear for their Language.
Diakses pada tanggal 7 September 2010, dari
http://www.nytimes.com/2010/07/26/world/asia/26indo.html?_r=1&hpw
Sartini (2004).Menggali Kearifan Lokal Nusantara: Sebuah Kajian Filsafati.
Jurnal Filsafat Edisi Agustus, Jilid 37, Nomor 2.
Sudarsono, J. (2010). Pendidikan Karakter Bangsa dimulai di Rumah. Diakses
pada tanggal 18 September 2010, dari http://kabar.in/2010/indonesiaheadline/
rilis-berita-depkominfo/03/03/juwono-sudarsono-pendidikan-karakterbangsa-
dimulai-di-rumah.html
Tang, W. (2006). Linguistic Imperialism in Medium of Instruction Policies in Pre
and Post 1997 Hong Kong. Hong Kong: BMC East Asian Studies Thesis (tidak
dipublikasikan).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar