Senin, 18 Juni 2012

Dwi Octaviani

TUGAS INDIVIDU
Sosiolinguistik “ Alih Kode “

Disusun Oleh  : 
Nama  : DWI OCTAVIANI
Kelas   : C 8
Nim     : 100388201034

DOSEN PEMBIMBING : Eka Rihan. K, S.Pd, M.Pd

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI
TANJUNGPINANG
2012

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga tugas study kasus  yang berjudul Alih Kode Bahasa melayu,  Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia dalam Berkomunikasi  pada proses antara penjual danpembeli ini dapat diselesaikan dengan baik.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terselesainya makalah ini.Terutama kepada Ibu Nur yang telah membantu dalam mengangkat study kasus ini dan pembuatan makalah ini bertujuan untuk mengetahui bentuk alih kode bahasa Melayu dan bahasa Jawa dalam berkomunikasi dengan bahasa Indonesia  serta faktor-faktor penyebab terjadinya alih kode tersebut. Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.
Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan dari para pembaca. Sekian yang dapat saya sampaikan saya ucapkan terima kasih.

                                                                     Tanjungpinang, 15 Juni 2012


  Penulis
BAB I
Abstrak dan Kata Kunci
1.  Latar Belakang
Peristiwa komunikasi merupakan peristiwa yang dialami oleh setiap orang dengan berbagai bahasa. Peristiwa komunikasi merupakan suatu peristiwa yang sangat majemuk. Komunikasi merupakan peristiwa penyampaian pesan dari komunikator (pengirim pesan) kepada komunikan (penerima pesan). Agar pesan tersebut sampai kepada komunikan, seorang komunikator harus menggunakan bahasa yang juga dipahami oleh komunikan. Ketika seorang komunikator menggunakan bahasa yang tidak dipahami oleh komunikan maka pesan yang disampaikan oleh komunikator tidak akan sampai pada komunikan. Dalam hal ini bahasa sebagai alat komunikasi mempunyai peranan yang sangat penting.
Namun, tidak semua penutur dan  lawan  tutur memiliki penguasaan bahasa yang sama. Sering sekali terjadi penutur harus berganti bahasa ketika akan berbicara dengan  lawan  tuturnya yang tidak menguasai bahasa penutur. Peralihan bahasa inilah yang disebut dengan alih kode. Peristiwa alih kode sering kali terjadi pada komunikasi dalam masyarakat Indonesia. Peristiwa alih kode tersebut bisa terjadi di pasar, di sekolah, di kampus, di kantor. Maupun dilingkungan masyarakat. Hal ini dikarenakan kemajemukan bahasa yang ada di Indonesia. Bahkan masih banyak lagi penyebab terjadinya alih kode.
Didalam penelitian di kehidupan sehari – hari ( keluarga ), banyak sekali percakapan yang melakukan peristiwa alih kode dalam dialog percakapannya. Hal ini terjadi karena banyak orang yang berasal dari luar daerah Tanjungpinang yang berbelanja di warung. Oleh karena itu, dalam makalah yang berjudul Alih Kode  Bahasa Melayu dan Bahasa Jawa dalam Berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia ini akan dibahas peristiwa alih kode pada salah satu pembeli yang bernama Ibu Didit yang berasal dari Malaysia.

1.  2. Rumusan Masalah
Dalam makalah yang saya teliti ini memberikan batasan pada masalah yang akan diteliti. Masalah yang akan diteliti adalah sebagai berikut, yaitu :
a)      Bagaimana bentuk alih kode  bahasa Melayu dan bahasa Jawa dalam berkomunikasi dengan bahasa Indonesia pada Ibu Didit yang berasal dari Malaysia.

b)      Apa faktor - faktor penyebab terjadinya alih kode  bahasa Melayu dan bahasa Jawa dalam berkomunikasi dengan bahasa Indonesia pada Ibu Didit yang berasal dari Malaysia.


1.  3. Tujuan
Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah sebagai berikut :
a)        Untuk mengetahui bentuk alih kode  bahasa Melayu dan bahasa Jawa dalam berkomunikasi dengan bahasa Indonesia pada Ibu Didit yang berasal dari Malaysia.

b)        Untuk faktor-faktor penyebab terjadinya alih kode  bahasa Melayu dan bahasa Jawa dalam berkomunikasi dengan bahasa Indonesia pada Ibu Didit yang berasal dari Malaysia.

BAB II
ISI
2.  Pengertian Alih Kode
Appel (dalam Chaer, 2004:107) mendefinisikan alih kode sebagai gejala peralihan pemakaian bahasa karena berubahnya situasi. Berbeda dengan Appel yang mengatakan bahwa alih kode terjadi antar bahasa, Hymes (dalam Chaer, 2004: 107) mengatakan bahwa alih kode bukan hanya terjadi antar bahasa, tetapi dapat juga terjadi antara ragam – ragam atau gaya - gaya yang terdapat dalam satu bahasa.
Dari dua pengertian alih kode di depan dapat disimpulkan bahwa alih kode merupakan gejala peralihan pemakaian bahasa dan peralihan ragam - ragam atau gaya - gaya yang terdapat dalam satu bahasa karena berubahnya situasi.

3.   Penyebab Terjadinya Alih Kode
Penyebab terjadinya alih kode menurut Abdul Chaer (2004: 108) adalah sebagai berikut:
1. Pembicara atau penutur.
2. Pendengar atau lawan tutur.
3. Perubahan situasi dengan hadirnya orang ketiga.
4. Perubahan dari formal ke informal atau sebaliknya.
5. Perubahan topik pembicaraan.
Seorang pembicara atau penutur seringkali melakukan alih kode untuk mendapatkan “keuntungan” atau “manfaat” dari tindakannya itu. Hal ini bisa terjadi pada saat penutur dan lawan tutur memiliki bahasa ibu yang sama.

Pembicaraan tersebut akan beralih kode dari bahasa Indonesia ke bahasa daerah. Dengan berbahasa daerah rasa keakraban pun lebih mudah dijalin dari pada menggunakan bahasa Indonesia.
Lawan bicara atau lawan tutur dapat menyebabkan terjadinya alih kode, misalnya karena si penutur ingin mengimbangi kemampuan berbahasa si lawan tutur. Dalam hal ini biasanya kemampuan berbahasa si lawan tutur kurang atau agak kurang karena memang mungkin bukan bahasa pertamanya.
Kehadiran orang ketiga atau orang lain yang tidak berlatar belakang bahasa yang sama dengan bahasa yang sedang digunakan oleh penutur dan lawan tutur dapat menyebabkan terjadinya alih kode. Status orang ketiga dalam alih kode juga menentukan bahasa atu varian yang harus digunakan.
Perubahan situasi bicara juga dapat menyebabkan terjadinya alih kode. Misalnya, perubahan dari situasi formal ke informal (santai) atau sebaliknya. Hal ini akan mengakibatkan berubahnya ragam atau gaya bahasa yang digunakan. Begitu juga dengan perubahan topik pembicaraan yang dapat menyebabkan terjadinya alih kode.

4.  Bentuk Alih Kode Bahasa Jawa dan Bahasa Melayu dalam Berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia pada dialog pembicaraan antara penjual dan pembeli.
Dalam berjualan wajar sekali adanya multilingualisme. Multilingual itu terjadi karena adanya penggunaan tiga bahasa, yaitu bahasa Jawa, bahasa Indonesia, dan bahasa Melayu. Hal inilah yang mengakibatkan terjadinya alih kode. Alih kode dalam dialog pembicaraan antar penjual dan pembeli ini terjadi antara bahasa Jawa dengan bahasa Indonesia dan bahasa Melayu dengan bahasa Indonesia.
Dalam dialog - dialog tersebut terjadi peralihan penggunaan bahasa, yaitu dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia atau sebaliknya. Sementara terdapat tiga dialog yang menunjukkan adanya alih kode dari bahasa Indonesia ke bahasa Jawa atau sebaliknya.

Satu contoh dialog yang menunjukkan adanya alih kode dari bahasa Melayu ke bahasa Indonesia adalah sebagai berikut :
Ibu Nur    :    “Mau beli soto buk.”
Ibu Didit  :   “Iye, satu mangkok nye berape ? “ (Satu mangkoknya berapa ?.)
Ibu Nur  :      “Murah kok Cuma 8000 aja “
Ibu Didit   : “ Bolehla nak pesan 1 saje “ ( pesan 1 saja )
Pada contoh di atas Ibu Nur melakukan alih kode dari bahasa Melayu ke bahasa Indonesia. Hal ini disesabkan terjadinya komunikasi.
Sementara contoh dialog yang menunjukkan adanya alih kode dari bahasa Indonesia ke bahasa Jawa adalah sebagai berikut.
Ibu Fatimah : “Jual apa aja buk?”
Ibu Ria : “ jual Nasi Rames”
Ibu Fatimah : “ tak ada soto ya buk ?”
Ibu Nur  : “ada juga kok buk.”
Ibu Fatimah : “Pesan dua ya buk?”
Ibu Ria  : “Bude bungkuske soto kaleh yo De “ (Bude bungkuskan soto dua ya Bude!)
Pada contoh di depan Ibu Nur melakukan alih kode dari bahasa Indonesia ke bahasa Jawa. Hal itu dikarenakan Ibu Nur ingin mengakrabkan diri dengan Ibu Fatimah karena dia ingin memperkenalkan bahasa Jawa kepada pembelinya.

5.  Faktor Penyebab Terjadinya Alih Kode Bahasa Melayu dan Bahasa Jawa dalam Berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia pada proses antar penjual dan pembeli.
Terjadinya suatu peristiwa alih kode terkadang tidak disadari oleh para pelakunya. Tetapi semua peristiwa alih kode tersebut mempunyai sebab – sebab tersendiri. Begitu pula peristiwa alih kode dalam proses komunikasi antara penjual dan pembeli. Faktor penyebab terjadinya alih kode bahasa Jawa dan Bahasa Melayu dalam berkomunikasi dengan bahasa Indonesia yang akan dipaparkan secara rinci sebagai berikut :
A.   Pembicara atau penutur ingin lebih akrab dengan lawan tutur
Terdapat dua dialog yang menunjukkan alih kode tersebut dilakukan dari faktor pembicara atau penutur. Pembicara atau penutur melakukan alih kode dengan maksud tertentu.
Contoh dialog yang menunjukkan alih kode dilakukan karena faktor penutur.
Ibu Didit : “ Mau pesan soto 1 ya buk “
Ibu Nur : “ enggeh buk, setunggal ae ?” ( iya buk, satu aja ? )
Pada dialog di atas melakukan alih kode dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia. Hal itu dilakukan karena Ibu Nur ingin memperkenalkan bahasa jawa kepada masyarakat Tanjungpinang. Dia mengucapkan kalimat enggeh buk, setunggal ae ? yang merupakan bahasa Indonesia yang berarti iya buk, satu aja ?. Ibu Nur ingin mendekatkan dirinya dengan Ibu didit. Oleh karena itu, dia lebih memilih menggunakan bahasa Jawa dari pada bahasa Indonesia agar terjalin keakraban.
Contoh dialog kedua yang menunjukkan adanya alih kode dengan sebab penutur adalah sebagai berikut.
Ibu Didit : “Jual apa aja buk?”
Ibu Nur : “Soto, Bakso, Nasi Rames.”

Ibu Didit : “ Boleh buk satu aja “
Ibu Nur  : “ apa lagi buk ?”
Ibu Didit : “tidak la buk satu aja”
Ibu Nur : “enggeh buk, monggo lenggah disik buk!
Dialog di atas menunjukkan bahwa Ibu Nur melakukan alih kode dari bahasa Indonesia ke bahasa Jawa, yaitu dengan mengucapkan enggeh buk, monggo lenggah disik buk! yang artinya iya buk, silahkan duduk dulu buk . Hal itu dikarenakan Ibu Nur ingin mengakrabkan diri dengan Ibu Didit.
B.   Pembicara atau penutur ingin melakukan proses
Selain pembicara atau penutur ingin mengakrabkan diri dengan lawan tutur, alih kode juga dilakukan penutur untuk melakukan proses.
Ibu Nur : “bude buatknan soto satu”
Ibu Ria : “ iya Buk.”
Ibu Didit: “ berapa buk harganya ?”
Ibu Nur : “ Wolongewu ae buk
Kyai melakukan alih kode dari bahasa Indonesia ke bahasa jawa dengan mengucapkan “ Wolongewu ae buk ” yang artinya “8000 aja buk”. Ibu Nur mengucapkan Wolongewu untuk menjawab harga yang ditanyakan oleh Ibu Didit. Ibu Nur mengucapkan bahasa jawa karena Ibu Didit juga mengerti sedikit bahasa jawa.

BAB III
Simpulan dan Saran

6.  Simpulan
Pada percakapan antara penjual dan pembeli ini ditemukan dialog - dialog yang menunjukkan adanya alih kode. Alih kode tersebut terjadi antara bahasa jawa dengan bahasa Indonesia dan bahasa melayu dengan bahasa Indonesia.
Faktor - faktor penyebab terjadinya alih kode dalam percakapan antara penjual dan pembeli adalah pembicara / penutur ingin lebih akrab dengan lawan tutur.

7.  Saran
Alih kode dan seharusnya digunakan pada kondisi dan situasi yang tepat. Seharusnya hanya digunakan pada situasi informal saja sementara pada situasi formal seharusnya menggunakan bahasa Indonesia yang baku.



DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul dan Agustina, Leoni.2004. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar